Search

Google

Saturday, February 24, 2007

Are We Moslem?

Khatib Shalat Jumat dengan materi khutbah yang sangat menarik perhatian saya sering saya jumpai walaupun agak langka. Sebagian besar khatib, apalagi yang usianya tergolong tua, yang seharusnya memiliki lebih banyak ilmu dan lebih mapan dalam teknik atau metode menyampaikan khutbah, justru hanya mengangkat materi yang itu-itu saja, paling tidak bagi saya yang kurang lebih sudah 30an tahun menghadiri majelis Shalat Jumat.Makanya tidak heran, bagi sebagian orang (termasuk saya kadang-kadang), menjadikan majelis Shalat Jumat sebagai majelis tidur siang.

Kalau dipikir, kira-kira dosanya sama siapa yaa..?. Menurut saya sih.., yaa tetap sama yang tidur.., karena khatib sudah melaksanakan tugasnya, baik atau tidak kualitasnya, toh tetap saja ada anggota jamaah yang tidur.
Wallahu a'lam bissawab

Tapi saya tidak ingin fokus pada baik atau tidaknya Khatib, bagaimanapun mereka jauh lebih baik dari pada saya, karena mereka orang yang berilmu dan ikhlas, yang pasti dicintai Allah, sedangkan saya hanya tertidur saat mereka membagi ilmunya. Dan saya masih jauh dari mampu untuk bisa menjadi khatib.

Satu khatib yang tidak membuat saya tertidur saat khutbah Jumat adalah khatib yang membawakan khutbah pada shalat jumat kemarin (23/02/07) di masjid Nurul Baroqah (dekat kosan saya), Sleman, Yogyakarta. Sayangnya saya masuk masjid saat adzan dikumandangkan, kesempurnaan shalat Jumat saya menjadi agak diragukan, dan saya tidak tahu nama khatibnya. :(
Tebakan saya, umurnya relatif muda (barangkali tidak lebih tua dari saya), dan mungkin dari golongan akademisi

Saya tidak tau persis apakah materi khutbahnya merupakan ulangan dari masjid ke masjid, dan saat menyampaikan sang khatib terlihat seperti membaca. Tetapi itu tidak penting

Dengan irama tuturan kata seperti seorang dalang (bener lho.. kayak dalang) yang sedang menyuarakan tokoh arif bijaksana, yang menurut saya enak didengar, beliau memulai inti khutbah dengan mengingatkan tentang bencana yang silih berganti mendera bangsa Indonesa, bencana alam, bencana kemanusiaan, musibah transportasi, dan lain sebagainya.

Yang membuat saya tergelitik dan berusaha untuk tetap terjaga karena penasaran ingin tahu lebih jauh, adalah kalimat sang khatib yang mengatakan bahwa Umat Islam Indonesia terbesar di dunia, tetapi merupakan umat yang paling menjatuhkan martabat Islam bahkan menginjak-injak Islam.

Rasa penasaran saya terjawab dengan beberapa contoh yang diangkat oleh beliau dalam khutbahnya. Antara lain (mungkin ada yang terlupa oleh saya):
- Sejumlah bencana alam dihadapi dengan ruwatan oleh paranormal atau bentuk-bentuk aktifitas lain yang mendekati kemusyrikan, sementara tidak pernah ada larangan dari pihak manapun untuk mencegah perbuatan dan aktifitas tersebut.
- Musabaqah digelar rutin dari tingkat kelurahan sampai nasional, hanya untuk memilih siapa yang 'menyanyikan' ayat-ayat Al-Qur'an paling baik, tetapi tidak memahami isinya.
- Nuzulul Qur'an dirayakan setiap tahun, tetapi Al-Qur'an-nya sendiri hanya menjadi barang pajangan
- Pemimpin dan elit yang memilih-milih ayat Al-Qur'an, mana yang cocok dan boleh dipakai, mana yang diabaikan dengan alasan tidak sesuai dengan budaya masyarakat Indonesia.

Menyambung contoh-contoh di atas, saya juga jadi teringat perilaku-perilaku bangsa ini yang sempat saya amati, seperti:
- Menteri Agama yang percaya wangsit tentang penggalian harta karun dan didukung oleh presiden waktu itu, atau Departemen Agama selama ini lebih suka dan lebih 'serius' mengurusi bisnis haji dibandingkan kehidupan keagamaan yang lain
- Adanya bisnis sertifikasi haji untuk orang yang sudah meninggal dunia, apa bedanya dengan surat pengampunan dosa oleh gereja di masa sebelum munculnya kristen protestan.
Maaf, saya awam dengan aturan tentang haji, yang pernah saya baca hanya dalil tentang fidya dan/atau denda puasa, itupun untuk yang masih hidup dan tidak mampu berpuasa. Dan juga yang saya ingat cuma pesan Rasulullah SAW bahwa tatkala meninggal dunia anak-cucu Adam, maka putuslah semua amalannya, kecuali tiga hal, yang saya tahu tidak termasuk sertifikat haji. Juga satu kalimat dalam Al-Qur'an yang tegas mengatakan "Haji adalah wukuf di Arafah". (Mohon dikoreksi jika saya keliru)
- Setiap kali ada bencana alam, jarang ada (berarti ada, tetapi sangat sedikit) komentar dari elit, media, maupun awam yang mengembalikannya sebagai bentuk kekuasaan Allah, melainkan lebih banyak mencari kambing hitam, banjir ini kesalahan si-itu, lumpur itu gara-gara si-anu.
Berkuasa benar si-anu bisa menghasilkan lumpur jutaan kubik dan masih terus berproduksi ???
- Dan juga, mungkin termasuk saya sendiri, yang dalam melaksanakan Shalat yang merupakan tiang agama, hanya sebatas rutinitas dan ritualnya saja.

Mendekati akhir khutbahnya, yang relatif tidak terlalu panjang, sang khatib juga mengingatkan,karena perilaku negara Islam terbesar ini sedemikian rupa terhadap islam itu sendiri, sehingga musuh-musuh Islam menilai Indonesia merupakan komunitas Islam terbesar didunia yang sekaligus menjadi titik terlemah dunia Islam yang bisa menjadi sasaran empuk untuk menghancurkan Islam, maka berkembanglah berbagai bentuk konspirasi untuk meruntuhkan Islam melalui Indonesia, termasuk menumbuhkan image bahwa Islam adalah paham terorisme dan sedang tumbuh subur di Indonesia.
Beliau juga mengingatkan bahwa tanggung jawab paling besar atas keutuhan 'perahu' bangsa Indonesia dan kejayaan Islam berada di pundak orang-orang yang telah diberi nikmat Islam, Iman, dan Ilmu.


Bayangan kehancuran Islam sangat mengkuatirkan saya, terbayang bagaimana nantinya Indonesia kalau sudah menjadi seperti Spanyol yang tinggal menyisakan masjid Al-Hambra.
Bagaimana nanti masjid Istiqlal akan tinggal menjadi monumen yang mengingatkan bahwa Islam pernah ada di Indonesia. Dan kita yang mengaku muslim akan berada di mana pada saat itu ??.

Tapi yang lebih menakutkan bagi saya adalah, kisah-kisah dalam Al-Quran, yang juga yang sempat saya tonton melalui film yang diangkat dari buku-buku karya Harun Yahya, seorang penulis berkebangsaan Turki, tentang bangsa-bangsa yang dimusnahkan karena ingkar terhadap ayat-ayat dan kekuasaan Allah. saya cuma berdoa, semoga musibah yang silih berganti ini tidak berujung pada eksekusi pemusnahan total sebagai bangsa yang ingkar terhadap Yang Maha Memiliki.

Ah.. ini kan juga sudah banyak dibicarakan oleh banyak khatib, lagipula saya bukan khatib, karena itu mungkin banyak yang sudah tertidur atau sudah memindahkan link-nya saat baru membaca sebagian tulisan ini. Adakah yang sedang menemani saya berdo'a...??

1 comment:

Unknown said...

Pada Hakekatnya, saya setuju dengan anda dan sang Khatib...tapi satu hal yang paling essensi dan sering terlupakan bahwa 'Iman di hati manusia itu keluar masuk, dan hati manusia itu ber-bolak balik', dan wajib bagi manusia untuk memohon kepada Sang Khalik agar kedua hal itu dikekalkan pada 'tempat'-Nya. Akibat dari ke-naif-an dan ke-alpha-an kita, manusia kadang sulit menerima yang diluar logikanya. Namun masalah Iman, mari kita renungkan yang berikut ini.....sesuatu hal yang baik dan sudah terlalu sering berulang-ulang disampaikan saja masih membuat kita terkadang bosan, lupa, dan meremehkan dan akhirnya tidak diamalkan, apalagi hal yang baru dan tidak pernah diulang-ulang. Rasulullah Saw ketika mengajarkan ayat-ayat Allah SWT kepada sahabat-sahabatnya, dalam sehari paling banyak 3 ayat, dan tidak akan ditambah sampai semua sahabatnya mengamalkan ayat-ayat tersebut. Bayangkanlah apa yang terjadi dengan ummat di zaman ini!!!