Search

Google

Tuesday, February 06, 2007

Vizontele

Merupakan judul sebuah film buatan Turki tahun 2001 yang sempat saya tonton lewat saluran HBO beberapa bulan lalu waktu masih dikamar lama saya.

Dikisahkan dalam film tersebut tentang sebuah kota kecil di Turki dalam setting tahun 1974, yang dipimpin oleh seorang walikota bernama Nazmi, yang sangat suka berpidato. Hiburan satu-satunya di kota itu adalah layar tancap yang diusahakan oleh seorang bernama Latif. Usaha bioskop terbuka Latif tepat bersebelahan dengan rumah sang walikota, sehingga Istri dan keluarga walikota tidak perlu membayar untuk menonton film yang diputar, cukup dengan naik ke atap rumah, dan tidak lupa membawa makanan ringan.

Suatu hari, walikota Nazmi berpidato, bahwa di kota mereka akan kedatangan 'Vizontele' yang akan memungkinkan mereka melihat dunia. Nazmi mendeskripsikannya sebagai pesawat radio dengan gambar bergerak. Yang dimaksud sebenarnya adalah televisi.

Saat kiriman 'vizontele' benar-benar sudah datang, cerita menjadi menarik dan lucu dengan permasalahan mereka harus menyetel sendiri 'vizontele' agar bisa menangkap siaran, dan perjuangan sang walikota untuk membuktikan bahwa 'vizontele' itu memang bisa bekerja, yang selalu dicemooh oleh Latif si pengusaha bioskop yang merasa usahanya terancam dengan keberadaan 'vizontele'.

Emin adalah orang jenius dikota itu yang oleh kebanyakan penduduk kota dianggap sebagai orang gila, yang banyak membantu walikota untuk bisa menghidupkan 'vizontele', mulai dari merangkai perangkat 'vizontele', memindahkannya ke atas bukit dan membangun pembangkit listrik yang membuat 'vizontele' terbakar, hingga membawanya ke gunung yang tertinggi dan berhasil menerima siaran dan menampilkan gambar, tetapi kemudian mereka kecewa karena 'vizontele' mereka menerima siaran 'jahat' dari Iran (pada masa itu Turki dan Iran bermusuhan).Merekapun turun gunung dengan penuh kekecewaan, disambut cemoohan dari Latif dan pendukungnya.

Yang menggelikan, adalah karena Emin, Walikota, dan para pendukungnya tidak memahami kalau 'vizontele' mereka punya fasilitas untuk memilih siaran, yang kemudian ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang polisi yang mengawal mereka selama ini. Dengan fasilitas tombol untuk memilih siaran, sebenarnya mereka sudah dapat menerima siaran pemerintah Turki sejak pertama 'vizontele' itu tiba, tanpa harus bersusah payah mencari tempat yang cocok hingga harus membawanya ke puncak gunung.

Malam itu, rumah walikota penuh dengan penduduk yang ingin menonton 'vizontele', dan membuat Latif benar-benar gelisah. Sayangnya dari siaran yang mereka tonton, terdapat berita duka gugurnya putra sang walikota, yang masuk dinas militer dan ikut menghadapi pemberontakan. Besok paginya Istri walikota yang sangat berduka, dibantu oleh Emin, menguburkan 'vizontele' di atas bukit, dan diberi batu nisan atas nama putranya.

Antusiasme terhadap televisi seperti digambarkan dalam cerita film "Vizontele" tersebut mengingatkan saya pada masa kecil saya, di tahun 1978 (saya tidak ingat tanggal dan bulan persisnya) ketika saya ditabrak sepeda motor saat berlari menyeberang jalan untuk menonton televisi di rumah tetangga depan rumah. Tidak lama setelah kejadian itu, Bapak saya mengupayakan sehingga bisa punya televisi sendiri di rumah.

Walaupun dengan televisi hitam-putih, dan siaran terbatas dari jam 6 sore sampai jam 10 malam pada waktu itu, kecuali hari minggu ada siaran pagi, tetapi rasanya kami atau mungkin kita semua sangat menikmati semua yang ditayangkan oleh televisi, entah karena masih merupakan hal baru, atau memang siarannya menarik untuk ukuran masa itu.

Saat ini, tidak sulit menemukan satu rumah keluarga dengan lebih dari satu pesawat televisi di dalamnya. Tetapi apa yang terjadi dengan sajian dari pertelevisian skarang ini, khususnya pertelevisian Indonesia. Rasanya bagi saya tidak ada lagi antusiasme untuk menunggu dan menyaksikan satu tayangan (kecuali tayangan olahraga balap Formula 1 yang sangat saya minati). Entah mungkin karena sudah jenuh dengan banyaknya siaran, atau memang tidak
ada lagi tayangan yang benar-benar menarik bagi saya.

Siaran televisi, khususnya di Indonesia, saat ini menurut saya, umumnya hanya berisi tayangan-tayangan:
Sinetron dengan cerita yang typical seputar perebutan kekayaan dan perebutan cinta sekalipun mengambil setting sekolah, dengan aktor/aktris berkemampuan typical, dominan dengan akting menangis dan melotot;
Infotainment yang dari segi materi nyaris sama dari semua stasiun TV tanpa ada nilai lebih yang ditawarkan, syukur-syukur kalau bukan berangkat dari opini si pembuat/pemilik/reporter/presenter infotainment sendiri;
Talkshow yang semakin mengada-ada (sampai-sampai penyanyi dangdut MarE yang jelas-jelas berbuat asusila bisa tampil seperti pahlawan tertindas);
Serta tayangan kuis dan realty show berhadiah gila-gilaan yang membuat pemirsa dipenuhi angan-angan dan terbang jauh dari dunia nyata (seperti pada era Porkas dan SDSB dulu yang sudah dilarang).

Yang tersisa bagi saya dari tayangan televisi, hanyalah siaran berita dan siaran olah raga (sayangnya tidak banyak jenis olahraga yang saya minati), yang memang sulit untuk direkayasa, ditambah sedikit hiburan komedi dengan judul-judul tertentu dan beberapa film kartun sebagai hiburan. Tidak banyak lagi yang saya harapkan dari televisi.

Bahkan yang rasanya ingin saya gugat adalah dirusaknya alur cerita, bahkan tema cerita oleh, para penulis skenario atau sutradara atau produser yang merasa diri sangat kreatif, dengan me-redesign kisah-kisah legenda dan dongeng-dongeng ternama yang saya kenal dan dikisahkan kepada saya oleh almarhum Bapak saya semasa saya kecil, seperti kisah si Malinkundang, Sangkuriang, Cinderella, Bawang putih dan Bawang Merah, dan sebagainya.

Akan menjadi sulit bagi saya (dan mungkin kita semua) untuk menceritakkannya kembali pada anak-anak kita, setelah mereka diracuni oleh versi melenceng dari kisah-kisah tersebut melalui tayangan sinetron televisi. Padahal pesan-pesan bijak dan moral dari kisah-kisah tersebut menurut saya masih akan relevan, mungkin sampai akhir zaman.

Hari ini, sejak kembali ke Jogja setelah liburan, dan pindah ke kamar baru, saya kembali dapat menikmati layanan TV Kabel, setelah hampir lebih satu minggu dijanjikan oleh pa' Budi pemilik kos.

Setelah menikmati layanan TV kabel di tempat kos sejak mulai sekolah S2 di Jogja, saya seperti mendapat anugerah, saya jadi punya pilihan lagi, antusiasme saya terhadap televisi seolah bangkit lagi. Saya tidak lagi terbatasi dengan tayangan stasiun TV Indonesia, dan kebutuhan informasi dan hiburan saya menjadi sangat terlayani oleh Dicovery Channel, National Geographic, CNBC, StarWorld, dan hiburan dari HBO, StarMovie, dan Cartoon Network.
TV kabel menjadi 'vizontele' bagi saya, seperti orang yang baru mengenal televisi lagi.

(kalau dibaca oleh Pa' john dan Ibu Ola, pasti sudah mengatakan: pantesan biaya kosnya mahal, cari yang pakai TV kabel sih... :P )

Tetapi.., jika nanti semua orang Indonesia sudah dapat menikmati TV Kabel, TV satelit, atau TV Internet, bagaimana dengan nasib pertelevisian Indonesia????????,
apakah siaran TV Indonesia masih mampu menjadi pilihan?
apakah kita serahkan saja perkembangan (atau pergeseran) budaya kita kepada dunia pertelevisian internasional?

Pertanyaan lanjutan yang muncul kemudian dalam pikiran saya adalah, apakah ada insan pertelevisian Indonesia yang berpikir tentang ancaman krisis budaya sepeti yang terlintas dalam pikiran saya?,
Saya yakin ada, tapi apa yang bisa/akan/telah mereka lakukan?
Kapan visi kualitas bisa lebih kental dalam penyajian tayangan TV ketimbang visi komersial?
Kapan pemirsa TV mau lebih kritis memilih tayangan ketimbang menjadi obyek bisnis
yang dijejali dengan tayangan ala kadarnya dan sekedar laku oleh pemasang iklan?

Pertanyaan terakhir.., kenapa saya mau cape mikirin itu yaa? apa ada yang mau ikut mikir?Mending nonton TV (bukan TV Indonesia.. :) )

Titip salut untuk pemilik/pengelola/pendukung acara "Jejak Petualang", "Archipelago", "Surat Sahabat", "E-Life Style", "Extravaganza", dan "Bajaj Bajuri", di stasiun TV Indonesia manapun mereka berada.

1 comment:

Unknown said...

Pernah Nonton 'Empat Mata' ga'? Ditayangkan Di Trans7 setiap hari senin-jumat pkl 21:30 Wib, bukannya promosi nih, sebab saya tidak mendapat 'gain' apapun, selain....saya bisa rileks kembali dan melupakan sejenak segala masalah setelah saya menyaksikan si 'Tukul Katro Arwana' dengan kekonyolan-nya. Cobain deh!!!